Ditulis oleh : Andy Bowgehl .
Kamu juga ingin tulisan tentang Football Managermu dimuat di Artupoke.com, cek dimari !

Kota Hamburg, Jerman
21 Januari 2024

Kami sukses mengalahkan Dortmund tiga gol berbalas satu. Hanya saja kemenangan itu harus dibayar dengan cederanya penyerang andalan saya, Anuar Gonzales (regen). Cedera serius yang menurut laporan tim medis akan memakan waktu lebih dari 5 minggu. Dengan ini praktis saya hanya punya satu penyerang murni Borja Mayoral, padahal sejak awal musim tim saya sudah terbiasa bermain dengan dua penyerang di depan. Sebenarnya ada dua pemain lain yang biasa saya paksakan main di posisi penyerang ketika saya butuh rotasi, yaitu Lovro Majer dan Xadas yang merupakan gelandang serang kreatif, bukan penyerang murni. Tapi akhir-akhir ini di media sedang gencar pemberitaan tentang Manchester City yang sangat serius untuk mendatangkan Xadas. Dan si pemain sendiri sudah menyatakan dia juga ingin bergabung dengan Manchester City karena tergiur dengan gaji selangit yang ditawarkan. Karena Xadas adalah satu dari tiga pemain yang dianggap sebagai team leader, maka menolak tawaran dari City hanya akan membuat pemain lain akan ramai-ramai memprotes keputusan saya.

Akhirnya saya memilih untuk mencari penyerang baru disamping kebutuhan utama saya mendapatkan sayap kiri dan tambahan fullback kanan (sudah sejak pertengahan Desember saya meminta tim scouting memberikan rekomendasi winger kiri dan fullback kanan). Saya tidak bisa hanya mengandalkan Borja Mayoral seorang karena di bulan Februari akan ada jadual padat mulai dari berkunjung ke markas Bayern pada lanjutan Bundesliga kemudian lanjutan putaran ketiga DFB Pokal dan fase gugur pertama Liga Champions.

Waktu 10 hari tidak cukup untuk saya memberikan assignment baru kepada tim scouting untuk mencarikan penyerang sesuai kriteria yang saya inginkan. Terpaksa saya bongkar-bongkar lagi berkas laporan mingguan tim scouting yang berisi rekomendasi pemain-pemain potensial dari liga-liga besar Eropa. Taktik yang sedang saya mainkan di Hamburger SV saat ini adalah kombinasi Pass to Space dan Hit Early Cross. Sederhananya adalah ketika pemain saya berhasil merebut bola, maka dia harus segera mencari kesempatan untuk bisa mengirimkan bola di belakang garis pertahanan lawan (katakanlah direct counter attack). Untuk itu, kriteria utama dari penyerang yang saya butuhkan adalah Off the Ball, Acceleration dan Pace.

Off the Ball adalah kemampuan pemain ketika tidak menguasai bola untuk bergerak mencari posisi yang tepat yang membuat dia bisa dengan mudah menerima bola yang dikirimkan. Ini adalah atribut khusus bagi penyerang, sementara Positioning yang maksudnya kurang lebih sama adalah atribut khusus bagi pemain bertahan. Sederhananya, penyerang dengan Off the Ball yang baik akan membuat dia pandai mencari posisi ideal untuk mencetak gol.

Sementara Acceleration adalah seberapa cepat seorang pemain bisa mencapai kecepatan lari maksimal (Pace). Bagi saya, Acceleration dan Pace adalah satu kesatuan dan saling terkait satu sama lain. Acceleration merupakan kemampuan pemain mempercepat lajunya dari mulai titik nol hingga mencapai kemampuan lari maksimalnya, sementara pace merupakan kecepatan lari maksimal yang bisa dilakukan. Pace sendiri sangat dipengaruhi oleh Stamina, bila Stamina nilainya kecil maka si pemain tidak akan bisa menjaga laju larinya untuk jarak tempuh yang cukup jauh. Oleh karenanya, ada banyak kejadian dimana penyerang yang berhasil lolos dari penjagaan bisa dikejar kembali oleh penjaganya karena si penyerang tidak mampu menjaga laju larinya tetap stabil sampai jarak tertentu. Disamping itu, Balance juga ikut menentukan keberhasilan lari dari pemain. Balance merupakan keseimbangan tubuh pemain. Semakin kuat Balance si pemain membuat dia tidak mudah terjatuh ketika beradu badan dengan pemain lawan dalam situasi adu lari. Sebagai contoh, Acceleration dan Pace yang dikombinasikan dengan Balance dan Stamina akan membuat si pemain bisa seperti Bale yang “mem-bully” Marc Bartra dalam laga El Clasico Final Copa del Rey. Acceleration membuat Bale seperti mendahului start lari melawan Bartra. Kemudian ketika Bartra mencoba melakukan body charge, Balance membuat Bale tidak terjatuh dan bisa tetap melanjutkan lari. Dan kombinasi Pace dan Stamina membuat Bale bisa tetap menjaga laju larinya sampai jarak tertentu sehingga Bartra tidak bisa mengejar dan gol pun tercipta. Dalam satu momen tersebut ada banyak atribut yang mempengaruhi.

Kembali ke pencarian pemain, setelah cukup lama mencari akhirnya saya dapatkan 2 pemain yang membuat saya tertarik. Mereka adalah Jimmy Edwards (20 tahun, regen) dari Newcastle United yang mempunyai off the ball 17, acceleration 17 dan pace 16 (sangat-sangat ideal buat saya) dan satu lagi Kevin Cannavo (23 tahun) dari Palermo dengan off the ball 17, acceleration 15 dan pace 16 (yang ini bukan regen).

Tanpa basa-basi langsung saya make enquiry ke Newcastle dan Palermo dan tanpa basa-basi pula kedua tim kompak untuk menolak dan menyatakan pemain tersebut not for sale. Karena waktu yang sudah mepet dan saya malas untuk ngubek-ngubek lagi file tim scouting, akhirnya saya kirimkan saja proposal penawaran untuk kedua pemain tersebut. Keduanya mempunyai nilai jual sekitar 26 juta Euro, dan saya memberikan penawaran sebesar 30 juta Euro. Sehari berselang penawaran saya ditolak. Saya naikkan lagi, ditolak lagi dan seterusnya. Sampai pada angka 45 juta Euro, penawaran saya untuk Kevin Cannavo diterima. Sementara untuk Jimmy Edwards, Newcastle menginginkan 120 juta Euro. Saya lupakan Edwards dan memilih fokus merampungkan transfer Kevin Cannavo. Drama belum berakhir, ketika pembahasan kontrak, agen Cannavo menginginkan besaran gaji dua kali lipat dari yang didapatkan di Palermo dengan tambahan klausul peningkatan 10 persen tiap tahunnya. Saya tidak masalah dengan besaran gajinya, tapi yang 10 persen saya tolak. Dan hasilnya?? Si agen langsung membatalkan negosiasi. Ingin rasanya berkata kasar… Dua hari menjelang penutupan jendela transfer, saya kirimkan lagi proposal 45 juta Euro untuk Kevin Cannavo. Beruntung Palermo masih mau menerima. Kembali saya bernegosiasi dengan agen dari Cannavo, tapi kali ini saya lebih teliti. Saya turunkan yearly salary rise jadi 5 persen dan saya kurangi sedikit besaran gajinya. Negosiasi berhasil dan jadilah Cannavo pembelian termahal saya dengan total 45 juta Euro. Hanya saja perekrutan Cannavo ternyata tidak begitu diterima oleh supporter yang tidak yakin dengan kemampuan si pemain. Mari kita lihat bagaimana atribut Cannavo bekerja…

Pertandingan pertama setelah penutupan jendela transfer adalah laga melawan Bayern Munchen dan Kevin Cannavo menjalani debut sejak menit pertama. Cannavo sukses mencetak 2 gol di babak kedua setelah kami tertinggal 2 gol di babak pertama. Pertandingan memang berakhir imbang, tapi gol kedua yang dicetak Cannavo memperlihatkan bagaimana off the ball, acceleration dan pace bekerja dengan baik. Bisa dilihat cuplikan gol-nya dibawah ini…

Di awal pergerakan Cannavo terlihat menempel bek tengah Bayern dan berada di depannya, lalu ketika pemain sayap kiri mendapat bola dan hendak melepaskan umpan (kombinasi dari instruksi Pass to Space dan Hit Early Cross), Cannavo secara cerdik mulai menjauhi penjagaan bek tengah dan mengambil ancang-ancang lari. Proses ini adalah off the ball movement, kemampuan penyerang untuk menempatkan diri di posisi yang tepat untuk menerima bola. Cannavo kemudian ber-akselerasi dan mendahului lari melawan bek tengah Bayern yang mengejarnya. Dengan pace (16) dan stamina (14) yang cukup bagus, laju lari Cannavo tidak berhasil dikejar. Satu lagi kelebihan Cannavo adalah composure-nya bernilai 16, yang artinya dia punya ketenangan dan kepercayaan diri ketika akan melakukan eksekusi bola. Dan secara cerdik Cannavo menempatkan bola di tiang jauh yang tidak bisa dijangkau Manuel Neuer, gol pun tercipta. Kevin Cannavo yang diawal kedatangannya sempat diragukan oleh supporter, langsung menjawab semua keraguan. Lebih dari itu, dia memperlihatkan bahwa saya tidak salah ngebet merekrutnya dari Palermo.

Jadi, yang perlu digarisbawahi adalah, dalam memilih penyerang atribut finishing bukanlah yang utama. Ada banyak atribut lain yang lebih menentukan sesuai dengan taktikal yang sedang dibangun, dimana bagi saya Mental Attribute mengambil peranan utama dalam kemampuan seorang pemain. Mental Attribute sangat mempengaruhi kinerja Physical dan Technical Attribute. Tanpa komponen dari Mental Attribute yang memadai (tidak harus semuanya bernilai tinggi, cukup yang benar-benar dibutuhkan saja), bisa dipastikan si pemain tidak akan bisa memaksimalkan Physical dan Technical Attribute-nya. Dan karena saya sedang memainkan taktik serangan balik cepat, maka saya membutuhkan penyerang yang tidak hanya cepat tapi juga pandai mencari posisi ideal. Untuk itu off the ball, acceleration dan pace adalah atribut utama untuk penyerang di taktik saya disamping kemampuan finishing yang dimiliki. Tahu taktik yang sedang dimainkan juga akan membuat lebih mudah dalam menentukan siapa pemain yang cocok untuk direkrut.

Keep playin’ FM!!

#CurhatSeorangManajer