Ditulis oleh : Andra.
Kamu juga ingin tulisan tentang Football Managermu dimuat di Artupoke.com, cek dimari !

Halo FMLovers

Pada kesempatan kali ini, Artupoke bakal membahas tentang negara fiktif di ranah Football Manager yang dirancang oleh FM Content Creator, Laura AKA Chilled Moose. Sumber : https://www.fmscout.com/a-aswijan-fm20-database.html

Negara fiktif ini bernama Aswijan (pronounce: Az-wee-jan). Kerennya nih, Si Laura ini nggak cuma asal-asalan bikin negara dan liga-liganya. Dia juga memasukkan unsur budaya serta latar belakang negara ini. Penasaran?

Yuk kita telusuri negara yang satu ini. Aswijan merupakan negara kepulauan yang berada di Benua Eropa, tepatnya di lepas pantai barat Eropa Barat Daya. Negara ini memiliki luas sekitar 50.000 km3 dengan populasi 32 juta penduduk

Sebelum masuk ke ranah sepak bola Aswijan, kita ulas sedikit sejarah negara ini, ya.

Jadi Aswijan ini awalnya ditaklukkan Spanyol pada abad 13, dan baru meraih kemerdekaan di abad 15.

Aswijan ikut serta dalam perang dunia kedua. Hal ini membuat negara ini kesulitan dalam masa pemulihan. Korupsi di dalam negeri ini membuat ekonomi rakyat terjepit. Raya yang berkuasa saat itu, King Angwin, terus mengekang kebebasan sipil, membuat negara menjadi miskin dan kerusuhan mulai menyebar ke seluruh negeri. Keadaan negeri itu chaos.

Sempat terjadi gerakan pemberontakan. Pada tahun 1949, keluarga Abalde dan Barayena bersatu dengan gerakan Kaduqni untuk membentuk Uniore Militia dan mendeklarasikan perang melawan King Angwin. Perang sipil berlangsung hingga 1953, dengan kekalahan Uniore Militia.

King Angwin meneruskan dinastinya. Korupsi dan pertikaian masih berlangsung. Kerusuhan sipil masih berlangsung antara Uniore Militia dan pasukan kerajaan. Pada tahun 1959, King Angwin mengalami kondisi kesehatan yang memburuk dan tanpa aliansi.

Hal ini dimanfaatkan oleh gerakan Kaduqni. Mereka merencanakan kudeta dengan memilih pemimpin yang populer, terkenal, dan berpikir maju ke depan dari dinasti Morcant, yaitu Nimah Morcant. Setelah Queen Nimah Morcant maju, dia mulai mengubah struktur politik negara.

Semenjak negara ini memiliki pemimpin baru, Aswijan fokus pada mengatasi masalah kemiskinan, berinvestasi pada teknologi dan sumber daya baru, mendistribusikan kekayaan negara ke daerah lain yang jauh dari ibukota negara.

Usaha Aswijan terbayar. Dalam enam puluh tahun terakhir, Aswijan berhasil menjadi negara kaya raya, mandiri secara ekonomi, serta memimpin dalam high-tech serta sumber daya energi terbarukan. Yeay!

Sekarang kita masuk ke sejarah sepak bola Aswijan.

Setelah mapan secara ekonomi, Aswijan mulai berinvestasi pada olah raga. Dengan diketahuinya Queen Nimah Morcant adalah penggemar sepak bola, popularitas sepak bola di negeri ini berkembang pesat. Negeri ini mulai fokus pada sepak bola dan berusaha meningkatkan reputasi pesepakbolaan negeri ini di kancah internasional.

Dibentuklah Liga Regale sebagai liga sepak bola negeri itu. Negara menyuntikkan dana untuk merevolusi klub-klub  yang berkompetisi di liga tersebut. Dana segar itu disalurkan untuk pembangunan stadion, akademi sepak bola, serta sports center.

Usaha mereka terbayar. Rangking FIFA meningkat pesat. Ada dua klub negara ini yang memiliki reputasi besar di kancah kompetisi Eropa. Klub itu adalah Aswijan Malikiy dan Aswijan Siti.

Nggak tanggung-tanggung nih, Queen Nimah memiliki impian besar yaitu melihat Aswijan mengangkat Piala Dunia dan membawa gelar tertinggi dalam sepak bola itu ke negeri mereka. Namun, sayangnya sang ratu berpulang di usia 89 tahun tanpa menyaksikan mimpinya menjadi kenyataan.

Klub-klub di Kasta Tertinggi Aswijan

Ada 3 divisi di liga profesional negeri ini. Divisi tertinggi bernama Liga Regale. Divisi kedua dinamai Liga Principale. Divisi di bawahnya ada Liga Dukh. Di artikel ini kita akan membahas klub-klub bereputasi tinggi di Liga Regale.

Aswijan Malikiy

Klub ini merupakan salah satu klub tersukses di negeri ini. Tidak pernah degradasi dan dalam dua puluh tahun terakhir meraih 15 gelar liga regale, 10 Copa Populares dan 10 Copa Azores.

Berdiri pada tahun 1894. Klub ini berjuluk El Errege atau The Royals. Klub ini memiliki finansial yang kuat. Akademi serta fasilitas latihan membuat mereka rutin menelurkan pesepak bola kelas dunia. Beberapa bintang di klub ini adalah Gallio Merula(GK), Xinto Cuervo(CB), Maziz el-Haidar(M), He Cheng (W) dan Joel Ashenhurst(CB).

Klub ini bermain di Malikiy Stadio, sebuah stadion yang dilengkapi hotel dan distrik hiburan.

Aswijan Siti

Klub ini adalah rival sekotanya Aswijan Malikiy. Klub ini diresmikan 10 hari setelah rivalnya berdiri. Dengan tingginya reputasi klub ini, mereka memiliki derby Aswijan (vs Aswijan Malikiy), Vanhu Derby (vs Aldaia), Kutyora Derby (vs Sporting Club Marrador), Batatwa Derby (vs Marrador FC) and the Nhovo Derby (vs Talat).

Sama seperti Malikiy, Aswijan Siti tidak pernah terdegradasi dan sudah meraih 4 Liga Regale title, 4 Copa Populares dan 3 Copa Azores.

Klub ini bermarkas di Ard Sunaren. Bintang-bintang yang bermain di sini yaitu Bodi Patriksson (CB), Elpidio Hoffman (MC), Sasa Zadeh si wonderkid masa depan (W), Tolino Kauko(GK),  dan Victor Pentilla (MC).

Biasanya orang-orang dari utara mendukung Siti, sementara di bagian selatan mendukung Malikiy. Aswijan Siti dijuluki Al Askatasuna atau The Freedom.

Marrador FC

Disebut ‘Capital of the West ‘ Marrador, klub ini merupakan klub populer di negeri ini. Klub ini merupakan klub kebanggaan warga Marrador. Didirikan pada 1930, klub ini bermarkas di Stadio de Galaxia. Mereka memang belum menjuarai liga dalam 20 tahun terakhir, tetapi raihan dua gelar Copa Populare dan Azore membuat mereka tetap disegani sebagai klub besar di Asjiwan.

Bintang klub ini sebut saja ada Kareem Chardin (ST), Bastiano Ruperto (MC), Bastiano Ruberto (MC), Bhava Kikugoro(CB) dan Zamani Kalonda (CB).

Hesef Kaduqni

Walaupun tidak bermain di kasta tertinggi, klub ini merupakan salah satu klub terpopuler di Aswijan dikarenakan hubungannya dengan Gerakan Kaduqni di era 40-an dan 50-an.

Klub ini didirikan tahun 1965 oleh Hesef Kaduqni community center.

Sayangnya, di masa kini klub ini lemah dalam finansial. Fasilitas mereka terbengkalai. Kebijakan transfer pun menjadi kacau. Raksasa yang tertidur ini bisa menjadi opsi menarik bagi para manajer yang mencari tantangan untuk membawa mereka ke divisi teratas.

Klub ini dijuluki The Viking.

Hadria FC

Hadria FC merupakan salah satu klub tersukses dalam sejarah pesepakbolaan Aswijan. Mereka bermain di Maleab Ras Alsatr, sebuah stadion berkapasitas 57000 penonton. Selama 20 tahun terakhir, mereka menjadi klub penantang gelar juara dengan empat kali menjadi runner up dan empat kali pula meraih posisi ketiga. Bisa dibilang, Hadria FC adalah spesialis runner up yang tidak beruntung dengan adanya dominasi klub Kota Aswijan.

Hadria FC memiliki rivalitas kuat dengan Aswijan Malikiy dalam Korwaa Derby. Kemudian derbi dengan klub Liga Regale lainnya yaitu La Novava Derby (vs SC Marrador) dan Nhoroondo Derby (vs Hamjar).

Pemain kunci mereka yaitu Gérald Du Toit(DM), Zeliko Beleshar(ST), Alexandro Finn(RB), Peeter Sosic (MC), dan Connor Vallotton(W)

Aldaia

Selain duo klub Aswijan, hanya Aldaia yang pernah merusak dominasi mereka. Aldaia pernah memenangi gelar Liga Regale pada tahun 2009. Klub yang bermarkas di Ard Alhuriya ini diisi para pemain muda Aswijan dan menjadi penyumbang terbanyak dalam skuad timnas U-21, yang artinya Aldaia memiliki prospek masa depan negara.

Para pemain kunci yang bermain di timnas senior adalah Hugo Nazário(ST), Norberto Kabange(M). Sementara para pemain muda berbakatnya yaitu, Adelgardo Prieto, Ashley Lopez, Fatin Gonzales, Jordan Campbell, Valto Muprhy, dan Ka Martins.

Bukan tidak mungkin, berbekal pemain muda berbakat, dalam 3-4 tahun ke depan klub ini berpeluang besar meraih gelar juara Liga Regale.

Tim Nasional

Tim Nasional Aswijan saat ini berada pada peringkat 9 FIFA. Negara berjuluk The Purple Panthers ini bermarkas di Ard di Aswijan yang berkapasitas 70.000 penonton. Posisi pelatih kepala dipegang mantan pemain timnas Aswijan, Isaías Copernicus, yang dijuluki pelatih muda jenius berusia 32 tahun. Di bawah Isaias, mimpi untuk menjuarai piala dunia bukanlah sebuah kemustahilan. Jabatan Kapten dipegang bintang Aswijan Siti, Bodi Patriksson. Sementara wakil kapten dipercayakan kepada kiper andalan Aswijan Malikiy, Gallio Merula. Aswijan memiliki bintang timnas yang meraih kemasyuran di seantero negeri, He Cheng dari Aswijan Malikiy.

Brand Apparel

Dikenal dengan kekayaan dan kemandiriannya, Aswijan memiliki aparel sendiri untuk klub-klubnya.

Aswijan Sports

Klub: Aswijan Malikiy & Siti, dan Aldaia

Horus Sports

Klub: Khaliza, Mufala Malikiy, Qashid dan Sporting Club Marrador

Theory

Klub: Berche, Lakhra, Hesef, Marrador FC

Polar

Klub: Talat Tigers, Zaan and Manouza Academi

Kulla Clothing

Klub: CSSC, ACAT, FC Lakhra.

Nah, gimana? Jadi tertarik nggak nih nyobain main di negara keren yang satu ini? Kalau kalian tertarik dan udah nyobain, jangan lupa komen di bawah atau share cerita kamu ya. Jangan lupa mention Artupoke biar kami tahu cerita kamu. 😀


follow me @Rtupoke and the Fan Page or subscribe this blog ya FM Lovers. Keep Sharing//