Rubrik baru “Dari FMLovers” merupakan satu tempat yang diciptakan khusus bagi para FMLovers yang ingin menyumbangkan sebagian kisah hidupnya dalam satu tema yang sama, Football Manager. Tidak ada batasan khusus topik yang harus diambil, jadi apabila kamu tertarik untuk memasukkan ceritamu ke artupoke.com. Silahkan email karyamu dalam bentuk microsoft word ke admin@artupoke.com
Salam FM 😀

oleh : Agam Averroes

clip_image002

Belanda merupakan salah satu Negara yang sekian lama menjadi kiblat sepakbola dunia, Negeri Kincir Angin ini terkenal dengan permainan khas yang terkenal dengan nama Total Football. Tak hanya itu Belanda juga mampu melahirkan pelatih-pelatih kelas dunia, sebagai contoh ada Louis van Gaal dan Frank Rijkaard . Namun di tulisan saya kali ini saya bukan ingin berbicara tentang van Gaal ataupun Rijkaard, melainkan pelatih baru Southampton yang juga asal Belanda yang kini menjelma bak penyihir di Liga Inggris. Ya, siapa lagi kalau bukan Ronald Koeman.

Pelatih berambut pirang yang kerap disapa Tintin ini mampu mengangkat prestasi Soutahmpton setidaknya hingga pekan kedelapan Premier League, Soton kini berada di peringkat tiga klasemen sementara Premier League. Koeman berhasil membuat Rezim baru di klub yang bermarkas di Saint Mary Stadium ini. Pada awal musim Southampton sempat digadang-gadang akan sangat terpuruk musim ini sepeninggal Mauricio Pocchetino yang kini menahkodai Tottenham Hotspurs, tak sampai disitu Southampton juga ditinggal bintang-bintang andalan mereka musim lalu yaitu Adam Lallana, Rickie Lambert, Callum Chambers, Dejan Lovren dan Luke Shaw yang semuanya pergi diboyong oleh klub-klub besar Premier League.

Tapi berbekal kelebihan di bidang finansial hasil penjualan pemain bintang Koeman tak begitu kesulitan untuk membangun lagi sebuah tim yang lengkap, dan pembelian terbaiknya adalah Graziano Pelle yang dulunya mantan anak asuh Koeman sendiri di Feyenoord, dan Dusan Tadic yang diboyong Koeman dari FC Twente. Tadic dan Pelle pun beradaptasi dengan cepat dengan Premier League dibawah asuhan Koeman. Pelle sudah mengemas enam gol dan satu assist. Sementara Tadic sukses menorehkan tujuh assist dan satu gol.

clip_image003(sumber: Premierleague)

Bukti nyata awal keberhasilan Koeman membuat Rezim baru di Southampton adalah terpilihnya Koeman dan Graziano Pelle sebagai Manager of The Month dan Player of The Month Premier League bulan September. Hal ini tak mengejutkan khususnya bagi saya, Koeman berhasil menang atas Newcastle 4-0, menang 1-0 atas Swansea, dan kemenangan 1-0 atas QPR di kandang sendiri. Sementara Pelle berhasil mencetak dwi Gol ke gawang Newcastle dan gol tunggal sebagai penentu kemangan atas QPR.

Secara taktik, Koeman sudah menggenggam ilmu passing cepat dan memainkan garis pertahanan rendah, ini tentu berbeda dengan skema Pocchetino yang diterapkan selama melatih Soton, yaitu menerapkan High Pressing hingga ke jantung pertahanan lawan. Hal ini terbukti karena dua gelandang kunci Soton yaitu Victor Wanyama dan Morgan Schneiderlin menggunakan role Ball Winning Midfielder. Keduanya ditugaskan menjadi petarung untuk merebut bola di depan kotak 16 Soton. Namun hal ini terbukti sukses karena Soton menjadi tim dengan tackle per game tertinggi di Premier League (24,5 tackle per game).

clip_image004

clip_image006

Kedua foto diatas menjelaskan bahwa Koeman bisa menggunakan pemain ‘seadanya’ untuk mendobrak pertahanan lawan maupun mempertahankan gawangnya dari kebobolan. Seperti yang saya bilang diatas, Koeman menggunakan strategi garis pertahanan rendah, dimana Nathaniel Clyne dan Ryan Bertrand akan menjadi pelecut awal serangan Southampton. Selain itu, cepat kompaknya Dusan Tadic dan Graziano Pelle menjadi senjata Koeman musim ini, sementara Wanyama dan Schneiderlin menjadi penyeimbang lini tengah The Saints. sejauh ini, gawang Fraser Forster sampai pekan kedelapan Premier League baru kemasukan lima gol, jumlah paling sedikit di Premier League.

Kredit khusus yang patut diberikan pada Koeman adalah bagaimana ia bias meramu pemain-pemain Soton yang banyak diisi pemain-pemain belia. Bersama Tintin, nama-nama seperti Nathaniel Clyne, James Ward-Prowse, Jack Cork, dan Victor Wanyama semakin bersinar.

Kesuksesan pria kelahiran Zandaam 21 Maret 1963 ini tentunya tak selalu berjalan mulus, sempat menukangi Vitesse dari 1999-2001 Koeman tak mendapatkan gelar apapun. Tapi setelah itu hingga 2005 ia mendapatkan amanat untuk melatih salah satu klub besar Eredivisie, Ajax Amsterdam. Di klub inilah Koeman mengalami pasang surut karirnya, bersama Ajax Koeman berhasil mendapatkan 2 gelar Eredivisie serta beberapa trofi domestic. Pada tahun 2005 Koeman didepak Ajax dan merantau ke Portugal, kali ini dia bekerja di Benfica. Dan lagi, nasibnya sama saat menukangi Vitesse ia tak mendapat gelar apapun bersama Benfica.

Hanya setahun melatih Benfica, Koeman kembali ke kampungnya untuk menukangi PSV Eindhoven, dan hasilnya not-bad, ia berhasil mendapatkan satu trofi Eredivisie pada musim 2006-2007 bersama PSV. Selanjutnya, Koeman mendapat tawaran melatih kelelawar Spanyol, Valencia CF. Di negeri Matador ini Koeman berhasil menjuarai satu gelar Copa Del Rey.

Di tahun 2009 ia kembali ke Belanda, kali ini AZ Alkmaar yang berniat mendapatkan servis dari Tintin, dan berhasil mendapatkan trofi Piala Super Belanda di musim pertamanya. Di AZ Alkmaar Koeman berhasil bertahan hingga tahun 2011 sebelum Feyenoord yang kini berminat menggunakan jasa Koeman, disini lah Koeman berhasil menghantarkan Feyenoord menjadi runner up Eredivisie dan disini juga Koeman mengasah Graziano Pelle menjadi striker hebat.

Dan kini, bisa kita lihat apakah Koeman berhasil membawa Southampton ke zona Liga Champions yang dari dulu diidamkan oleh seluruh fans Soton? Dan siapa lagi bibit muda yang akan ditemukan Koeman bersama The Saints? Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.. Prestasi akan didapat melalui kerja keras dari seseorang.

Sekian.