Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.

FM Lovers,

Saat tulisan ini dibuat, secara resmi telah diumumkan bahwa Juventus FC, disponsori oleh Nine Sport inc (Terima kasih banyaaaak ya udah bawa Juve ke Indonesia!) akan bertandang ke Negara kita tercinta, Indonesia, dan dua lembar tiket bertandang ke GBK sudah berada di tangan saya (not literally, soalnya saya minta istri yang simpan :p). Yang belum punya tiket, buruan deh sebelum kehabisan, infonya bisa cek di www.ninesport.co.id

 

Pada tulisan kali ini izinkan saya untuk berbagi cerita tentang Juventus. Sebuah klub dimana warna hitam putihnya seragamnya membuat saya jatuh cinta saat saya masih berseragam putih biru (maksudnya waktu saya SMP). Sebagian cinta dari saya yang saya berikan Ke Juventus dan sebagian jiwa saya sudah tersandera oleh sebuah game yang bernama Football Manager, keduanya sukses berkolaborasi membuat hidup saya tak jauh-jauh dari La Vecchia Signora, Si Nyonya tua yang tetap seksi sampai kapanpun. Mastin is good…eh salah LIFE is good 😀

Awal kecintaan saya kepada Juventus adalah saat mengenalnya di akhir 90-an (yah tebak saja deh umur saya berapa) dimana Serie A di saat itu berada di puncak kejayaannya. Berawal dari jatuh cinta pada design seragam (Yup), yang berlanjut perkenalan saya Super Del-Pippo, Para Jendral Lapangan tengah : Zidane, Deschamps, Conte, Edgar Davids, Tacchinardi, dan Di Livio. Para Tembok : Ferrara, Paolo Montero, Iuliano, Pessoto, Birindeli dan Angelo Peruzzi. Para pemain yang mengawal cinta pertama saya ke Juventus, yang akan diikuti oleh legenda lainnya, Nedved, Buffon, Pirlo, dan calon-calon legenda Juve lainnya.

sumber foto : https://www.flickr.com/photos/rezaoktri/8497861714/
Kecintaan yang tidak saya ketahui sampai mana besarnya, tapi yang jelas tidak berkurang di saat Juve memberi kesempatan tim lain Juara Serie A, karena farsopoli (Ya, Farsopoli, bukan Calciopoli), saat dua kali di peringkat 7 sampai yang terakhir dan berbalik mematri gelar ke 32nya (ya 32 ! TIGA PULUH DUA !!). Hal itu hanya menambah bumbu kisah cinta saya kepada Juventus.

juve

Mungkin saya termasuk yang beruntung disambut tiap musimnya oleh Giovanni Cobolli Gigli, Jean Claude Blanc sampai Andrea Agneli untuk melatih Juventus. Ya, kita berbicara Juventus di Football Manager, dimana cintanya saya ke Juventus di dunia nyata disalurkan dengan tidak pernah absen memilih Juventus sebagai untuk di latih di Football Manager. Dengannya saya bisa mengenal tidak hanya pemain juventus senior tetapi juga primavera dengan penyajian statistik ala FM. Saya yakin seperti halnya saya, FMLovers jadi yang lebih tahu potensi Marchisio-Giovinco-Chiellini dkk di musim 2007-2008. FM Lovers juga bisa lebih mengenal Dahsyatnya Boniperti-Platini-Roberto Baggio- dan Giuseppe Furino (hayooo, pada kenal Giuseppe “The Fury” Furino nggak ??, Juventini akut wajib tau) di masa keemasannya. Membuat kita bersuka cita berlama-lama dengan Juventus kita dan lumrah mengatakan “Just One more match, i promise…”

Sayangnya, 496 kata disini (hitung aja deh kalau tidak percaya) tidak akan cukup menceritakan Juventus dan Saya, tetapi tetap Fino All Fine ! sampai jumpa di Gelora Bung Karno, Juventus !
Forza Juve !