Si Klasik yang Kembali Jadi Idola

Di IDFM League 2017 dan 2018 tiga striker jadi idola karena mampu meng-exploit bagian half space di antara bek tengah dan full-back.

2015-09-24_Half-Space
half space yang warna orange

Di IDFM League 2019 ada exploit di bagian set piece yang sangat menyebalkan. Tapi di IDFM League 2020, ada yang jauh lebih menarik dibanding dua exploit sebelumnya lewat sebuah formasi klasik yang kembali menjadi idola.

Pada tahun akhir tahun 90an dan awal 2000an, tim-tim Eropa yang menjadi kiblat taktik sepak bola didominasi dengan formasi 4-4-2 klasik. Dengan empat pemain belakang sejajar, empat pemain tengah dan dua penyerang tengah. Ambil contoh Manchester United saat meraih treble di tahun 1999 yang menggunakan formasi dasar ini.

Manchester United 1999/2000 (4-4-2) - Football tactics and ...
Manchester United 1999/2000

Di Artupoke IDFM League 2020, secara mengejutkan taktik yang menjadi pake empat bek ini menjadi idola kebanyakan tim. Menurut tim analis liga, 70% tim mengandalkan formasi dasar ini yang kemudian dikembangkan secara sendiri-sendiri.

4-4-2 sendiri adalah taktik klasik yang juga mampu membuat Blackburn memenangi Premier League 94/95, hingga membuat Juventus berjaya di masa duet Alessandro Del Piero dan David Trezeguet. Tentu saja, 4-4-2 adalah taktik yang sangat terafiliasi dengan timnas Inggris. Formasi yang gagal mengakomodir dua gelandang terbaik Inggris Steven Gerrard dan Frank Lampard.

Kekuatan

Menurut fourfourtwo.com, 4-4-2 memungkinkan tim bermain simpel dengan bola-bola direct. Dengan 4-4-2 juga memungkinkan para penyerang untuk melakukan penetrasi ke depan tanpa dukungan dari para gelandangnya.

Kekuatan lain dari formasi ini adalah permainan di sayap, dengan dua full-back dan dua sayap di lini tengah memungkinkan counter-attack yang cepat dengan merentangkan pertahanan lawan yang tidak siap. Dua kemungkinan pun terjadi, bisa melalui crossing di sepertiga akhir pertahanan lawan, atau melalui penetrasi.

Di Football Manager, situasi dengan memainkan MR/ML membuat lebih banyak space untuk berkreasi dan menekan pertahanan lawan dengan menciptakan chaos di depan empat bek lawan – apabila lawan tidak memainkan DM. Inilah yang dilakukan oleh beberapa tim di Super League seperti De Falcoda dan Sehai United yang sukses dengan formasi klasik ini.

Saat bertahan 4-4-2 memungkinkan tim bermain disiplin dengan menjaga space antar line yang hanya bisa dimaksimalkan apabila tim lawan mampu bermain antar lini dengan baik lewat umpan-umpan pendek, atau penggunaan DM seperti DLP-S atau Regista ataupun penggunaan AMC demi mengadakan posisi pemain yang berada antar lini.

Kekurangan

Jose Mourinho di masa pertama menjadi manager Chelsea pernah berkata bahwa dengan menaruh satu tambahan pemain di tengah bisa membuat sebuah tim dominan melawan 4-4-2. Dan itulah mengapa Mourinho bisa begitu digdaya di tanah Britania yang dominan dengan 4-4-2 dengan menaruh Claude Makelele di belakang Frank Lampard dan Michael Essien dan bermain 4-3-3.

Chelsea 2004–2006 “Coronation of The Special One” – Football Musings
Chelsea 2004/2005

kerja berat untuk para gelandang tengah dalam bertahan dan menyerang juga semestinya menjadi perhatian. Karena itu banyak tim yang mulai menyesuaikan saat melawan 4-4-2 dengan 4-4-1-1 yang menambah satu pemain di area belakang pemain tengah sebagai jembatan pembagi bola, atau pun pemain yang bisa mengancam lewat pergerakan, tendangan jarak jauh, ataupun umpan-umpan daerah. Seperti yang dilakukan oleh dua tim papan atas Jetta Rex Xenon di Super League dan Dark Knight di Championship Group C.

Konklusi

4-4-2 adalah formasi yang relatif seimbang, mengandalkan speed dan kekompakan saat melancarkan serangan balik. Maka dari itu, sangatlah efektif saat tim lawan bermain dengan permainan yang mengandalkan serangan dan meninggalkan keseimbangan.

Dengan mengandalkan pemain sayap cepat dan penyerang tengah yang cepat membuat 4-4-2 sangatlah populer. Tetapi, seperti halnya teori di dunia nyata bahwa ada ruang antar lini yang bisa dieksploitasi formasi klasik tersebut semestinya bisa dikalahkan lewat kemampuan manager dengan menjadi lebih adaptif dalam pertandingan.