Pertambangan itu umurnya tidak sebentar, perlu waktu yang lama, umur tambang dari tahap ekplorasi, ekploitasi, dan reklamasi. Mungkin cukup bagi seorang anak mengecap pendidikan dari TK sampe lulus dari sarjana. Ya, Jelas. Eksplorasinya saja bisa 2-5 tahun. Produksi 10-15 tahun, bahkan lebih. Dan Reklamasi bisa saja 2-3 tahun.

Sifat manusia, tentunya ingin yang serba cepat. Jika dapat lebih enak dalam waktu yang lebih seingkat. Kenapa harus nunggu lama ? Terus apa hubungannya dengan kalimat di atas ? Bila pertambangan dilihat sebagai asset Negara, tentu pertambangan tidak akan dieksploitasi gila gilaan. Dilakukan oleh orang sendiri, jika kurang manusia yang berkualitas, baik dalam teknis, maupun manajemen, alangkah baiknya melatih putra-putri bangsa sendiri.

Tapi kalo melihat umur pertambangan, apakah sang pengelola pertambangannya tersebut, akan sempat mencicipi buah kesuksesannya ? Jika seorang pengusaha menanamkan modal, dan memegang prinsip diatas. Kapan dia balik modal ? mendapatkan untung. Begitu juga bila di sisi pemerintah, memegang prinsip di atas, kapan dia mendapat pemasukan untuk daerahnya ? sebagai pemegang kebijakan pasti juga terhalang oleh waktu. Kelamaan bisa keburu Pilkada bos.

Pertambangan adalah industry skala besar, tidak mungkin hanya dilakukan oleh sekelompok kecil orang. Dari sisi tersebut, tentunya akan banyak individu yang saling berinteraksi. Sesuatu yang lebih cepat, singkat, tentu lebih dipilih dengan mengatasnamakan efisiensi maupun efektifitas. Tetapi apabila ada yang mengalokasikan prinsip diatas, dan dilakukan berberengan. Akankah yang kita lihat, bangsa Indonesia dapat berdiri sendiri ? tanpa melulu dijajah oleh neo-kolonialisme. Pertambangan kita saat ini mungkin lagi bagus bagusnya, tapi bagaimana 20 tahun ? 30 tahun lagi ? Apakah bila sekarang pertambangan dikelola sendiri, kita bakal lebih makmur ? atau malah sebaliknya ?

Yah hanya omongan dari saya yang belum tahu apa-apa, hanya bisa berbicara karena kapasitas saya hanya berbicara.